ANALISIS KEPRIBADIAN TOKOH-TOKOH
DALAM NOVEL BELENGGU MELALUI PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA
Disusun
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Metode
Penelitian Sastra Dan Pengajaran
Dosen Pengampu
Dr.
Ali Imron Al Ma’ruf, M. Hum
Oleh
LESTIASIH
A
310090233
PENDIDIKAN BAHASA SASTRA
INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULIAN
A. Latar
Belakang
Sebuah karya
sastra pada hakikatnya
merupakan suatu pengungkapan
kehidupan melalui bentuk
bahasa. Karya sastra merupakan
pengungkapan baku dari apa yang telah disaksikan, diilhami, dan dirasakan
seseorang mengenai segi-segi kehidupan
yang menarik minat secara langsung dan kuat, pada hakikatnya suatu pengungkapan kehidupan
manusia melalui bentuk bahasa. Hardjana berpendapat bahwa sastra merupakan
hasil ciptaan tentang karya kehidupan dengan menggunakan bahasa imajinatif dan
emosional.
Karya sastra lahir karena adanya keinginan dari pengarang untuk
mengungkapkan eksistensinya sebagai manusia yang berisi ide, gagasan dan pesan
tertentu yang diilhami oleh imajinasi dan realitas sosial budaya pengarang
serta menggunakan media bahasa sebagai penyampaianya. Karya sastra merupakan
fenomena sosial budaya yang melibatkan kreativitas manusia. Dan karya sastra
lahir dari pengekspresian endapan pengalaman yang telah ada dalam jiwa
pengarang secara mendalam melalui proses imajinasi. ( Aminudin dalam Endah
Juliana, 2011:1)
Karya sastra pada umumnya berisi tentang permasalahan yang
melengkapi kehidupan manusia. Permasalahan itu dapat berupa permasalahan yang
terjadi dalam dirinya sendiri. Karena itu, karya sastra memiliki dunia sendiri
yang merupakan hasil dari pengamatan sastrawan terhadap kehidupan yang
diciptakan itu sendiri baik berupa
novel, puisi maupun drama yang berguna untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang ditulis secara naratif, biasanya
dalam bentuk cerita. Sebuah novel biasanya
menceritakan tentang kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan dan
sesamanya. Dalam sebuah novel, si pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk
mengarahkan pembaca kepada
gambaran-gambaran realita kehidupan melalui cerita yang terkandung dalam novel tersebut.
Novel merupakan
salah satu karya sastra yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan
serangkaian peristiwa secara tersusun, namun jalan ceritanya dapat menjadi
suatu pengalaman hidup yang nyata dan seolah
kita dapat merasakan kejadian-kejadian dalam cerita tersebut. Hal ini berarti novel bergumul
dengan para tokoh dan penokohan yang terdapat dalam karya tersebut. Dewantara
(dalam Walgito, 1997:5) mengungkapkan bahwa setiap manusia merupakan individu
yang berbeda dengan individu lainnya. Manusia
mempunyai watak, temperamen, pengalaman, pandangan, dan perasaan sendiri yang
berbeda dengan lainnya. Dalam novel para tokoh rekaan ini menampilkan berbagai
watak dan perilaku yang terkait dengan kejiwaan dan pengalaman psikologis atau
konflik-konflik sebagaimana dialami oleh manusia dalam kehidupan nyata.
Para pembaca akan memiliki penilaian berbeda-beda terhadap karya
sastra, terhadap tokoh-tokoh dalam novel yang dibaca. Atas dasar motif apa
tokoh melakukan hal tersebut. Penilaian ini bisa dilihat dari segi psikologi, baik
dari tokoh, pengarang maupun pembaca. Dewantara (dalam Walgito, 1997:5)
mengungkapkan bahwa setiap manusia merupakan individu yang berbeda dengan individu lainnya. Manusia mempunyai
watak, temperamen, pengalaman, pandangan, dan perasaan sendiri yang berbeda
dengan lainnya
Belenggu adalah salah satu novel karya
Amrijn Pane pada tahun 1940. Pada novel ini menceritakan tentang sepasang suami
istri Sukartono dan Sumartini. Sumartini yang merasa tidak diperhatikan lagi
karena suaminya terlalu sibuk dengan pekerjaanya sebagai seorang dokter,
sehingga ia pergi mencari kesibukan sendiri. Hal ini berakibat sering terjadi
keslah pahaman dan mereka sering bertengkar karena pikiran masing-masing, dan
masih banyak lagi akibat lainya.
Untuk itulah mengapa penulis memilih
Novel Belenggu sebagai bahan analisis, karena dari segi judulnya, Belenggu
berarti terikat. Penulis mencoba ingin mengkaji lebih dalam mengapa para tokoh
di dalam karya tersebut berperilaku demikian, apakah mereka mengalami
konflik-konflik psikologis. Apa yang menyebabkan kondisi semacam ini dan apa
pula akibatnya.
B. Rumusan Masalah
Dari latar
belakang masalah diatas, timbulah suatu rumusan masalah “Bagaimana Aspek-Aspek
Kejiwaan Para Tokoh Dalam Novel Belenggu?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami Aspek-Aspek Kejiwaan Para
tokoh Dalam Novel Belenggu.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan
tujuan penelitian di atas, manfaat penelitian ini adalah
1.
Maanfaat Teoritis
Penelitian ini
dapat memberikan manfaat bagi pengembangan khasanah keilmuan dan pengetahuan sastra
Indonesia terutama dalam pengkajian novel dengan pengkajian psikologi sastra
bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umunya.
2.
Manfaat Praktis
a.
Bagi pembaca dan penikmat sastra
Hasil penelitian ini dapat memperluas pengetahuan pembaca sastra
indonesia terhadap karakter seseorang melalui tokoh-tokoh dalam novel belenggu.
b.
Bagi mahasiswa sastra indonesia dan daerah
Sebagai
motivasi dan reverensi penelitian karya sastra indonesia, agar setelah peneliti
melakukan penelitian ini muncul penelitian baru seingga dapat menumbuhkan
motivasi dalam kesustraan.s
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI
DAN KERANGKA PEMIKIRAN
A. Tinjauan Pustaka
Pada dasarnya suatu penelitian dapat mengacu
pada penelitian lain sebagai titik tolak untuk mengetahui keaslian dan
keautentikan penelitian yang dilakukan. Kajian pustaka yang dimaksud adalah
penelaahan terhadap karya atau penelitian yang relevan dengan penelitian ini.
Diantaranya adalah penelitian yang dilakukan
oleh Ika Rukmana Purnamasari (2011:106) yang berjudul “Konflik Batin Tokoh Utama Dalam Novel Sang Maharani Karya Agnes
Jessica: Tinjauan Psikologi Sastra”. Dalam skripsi menganalisis novel Sang
maharani. Dengan tokoh utama maharani, latar atau waktu terjadi sekitar tahun
1942 sampai 1945. Latar sosial ini adalah kehidupan Maharani yang penuh dengan
cobaan. Karena ia harus menjadi pelacur dan menjadi primadona di wisma Bintang
Cahaya. Ia di pelihara oleh tentara jepang. Sehingga semua teman menjauhinya.
Hal tersebut sangat menyiksa batinya. Ketika ia bebas dan kembali kerumahnya ia
terpaku dan tertunduk dengan lemas melihat rumahnya yang tinggal puing-puing.
Akhirnya rani membuat toko roti dan membeli rumah baru.
Selanjutnya yaitu penelitian oleh Tri
Wulandari (2011:104) dalam skripsinya “Aspek
Motivasi Novel Mereguk Cinta Dari Surga Karya Abdul Karim Khiaratullah Tinjauan
Psikologi Sastra”. Tema dalam Novel mereguk cinta dari surga adalah
mempertahankan nilai kemanusiaan dalam penderitaan dan memotivasi diri untuk
bangkit dari keterpurukan. Alur yang digunakan adalah alur mundur, sorot balik
atau flash. Dengan tokoh utama aziz. Latar waktu sekitar tahun 2002 sanpai
2003. Latar sosial yang dialami aziz adalah kehidupan yang penuh kebersamaan,
gotong royong dan saling membantu. Analisis dalam novel ini menggunakan teori
minderop.
B. Landasan Teori
1. Hakikat kepribadian
Menurut
pandangan eksperimental, kajian kepribadian merupakan suatu proses yang harus
dipahami dengan mempelajari peristiwa yang mempemgaruhi perilaku seseorang
melalui kontribusi peristiwa tersebut terhadap kepribadian si individu. Menurut
pandangan sosial, kajian kepribadian dalam kaitanya dengan konteks sosial dan
perkembangan kehidupan harus dipahami melalui kontribusi model dan peran
kebudayaan itu sendiri. Dengan demikian, kepribadian adalah suatu integrasi
dari semua aspek kepribadian yang unik dari seseorang menjadi organisasi yang
unik, yang menentukan dan dimodifikasi oleh upaya seseorang beradaptasi dengan
lingkungan yang selalu berubah. (Krech dalam Minderop, 2010:7).
Bagi para
psikologis, istilah kepribadian adalah pengutamaan alam bawah sadar (unconsious) yang berada diluar sadar,
yanag membuat struktur berpikir diwarnai oleh emosi. Mereka beranggapan,
perilaku seseorang sekedar wajah permukaan karakteristiknya, sehingga untuk
memehami secara mendalam kepribadian seseorang, harus diamati gelagat simbolis
dan pikiran yang paling dalam dari seorang tersebut. Mereka juga mempercayai
bahwa pengalaman masa kecil individu bersama orang tua telah membentuk
kepribadian kita. (Freud dalam Minderop,
2010:9)
2. Hakikat Novel
Dalam kamus
Besar bahasa Indonesia menyebutkan bahwa Novel adalah karangan prosa yang
panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang
di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Sedangkan novel
menurut Jakob Sumardjo (1997: 185) adalah cerita fiktif yang panjang. Bukan
panjang dalam arti fisik, tetapi juga isinya. Novel terdiri dari satu cerita
yang pokok, dijalani dengan beberapa cerita sampingan yang lain, banyak
kejadian dan banyak masalah juga yang semuanya harus merupakan satu kesatuan
yang bulat.
Dari beberapa
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa novel adalah salah satu karya sastra
yang merupakan cerita fiksi (rekaan) panjang, novel dibangun oleh unsur
intrinsik dan ekstrinsik yang terdapat pelaku didalamnya.
Novel sebagai
sebuah karya fiksi menawaran sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan
yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun melalui berbagai unsur
intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh (dan penokohan), latar sudut
pandang, dan lain-lain yang semuanya, tentu saja, dan bersifat imajinatif.
(Nurgiyantoro, 2009: 4)
Salah satu unsur
pembangun novel adalah tokoh atau penokohan. Tokoh merupakan unsur yang penting
dalam karya naratif, karena tokoh adalah pembuat konflik atau “siapa yang
melakukan dan di kenai sesuatu dalam cerita tersebut”. Namun novel fiksi
merupakan sebuah keseluruhan yang utuh dan memiliki ciri artistik. Keutuhan dan
keartistikan itu terletak pada keterjalinanya yang erat antarberbagai unsur
pembangun lainya seperti, plot, tema atau unsur latar, sudut pandang, budaya,
gaya, amanat dan lain-lain.
a.
Hakikat Tokoh dan Penokohan
Istilah “tokoh” menunjuk pada orangnya, pelaku cerita,
misalnya sebagai jawab terhadap pertanyaan: “siapa tokoh utama novel itu?” atau
”ada berapa jumlah pelaku novel itu?”, atau “Siapakah tokoh protagonis dan
antagonis dalam novel itu?” dan sebaginya. Watak, perwatakan dan karakter
merujuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca,
lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. (Nurgiyantoro, 2009: 165)
Tokoh cerita (character)
menurut Abrams (1981: 20), adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu
karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas
moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapandan apa
yang dilakukan dalam tindakan.
b.
Pembedaan Tokoh
Menurut
Nurgiyantoro (2009: 176) tokoh-tokoh dalam novel dapat dibedakan kedalam
beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan.
Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat saja
dikategorikan ke dalam beberapa jenis penamaan sekaligus, misalanya sebagai
tokoh utama-protagonis-berkembang-tipikal.
1)
Tokoh utama dan tokoh tambahan
2)
Tokoh protagonis dan tokoh antagonis
3)
Tokoh sederhana dan tokoh bulat
4)
Tokoh statis dan tokoh berkembang
5)
Tokoh tipikal dan tokoh netral
3. Hakikat Psikologi Sastra
a.
Pengertian Psikologi Sastra
Pada dasarnya
psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang berkaitan dengan
unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam sastra.
Aspek-aspek kemanusiaan inilah yang merupakan objek utama psikologi sastra
sebab semata-mata dalam diri manusia itulah aspek kejiwaan dicangkokkan dan
diinvestasikan. (Ratna, 2004: 344).
Psikologi sastra adalah sebuah interdisiplin antara
psikologi dan sastra. Mempelajari psikologi sastra sebenarnya sama halnya
dengan mempelajari manusia dari sisi dalam. Daya tarik psikologi sastra ialah
pada masalah manusia yang melukiskan potret jiwa. Tidak hanya jiwa sendiri yang
muncul dalam sastra, tetapi juga mewakili jiwa orang lain. Setiap pengarang
kerap menambahkan pengalaman sendiri dalam karyanya dan pengalaman pengarang itu sering pula dialami
oleh orang lain. (Endraswara dama Minderop, 2010:59)
b.
Sastra sebagai cerminan kepribadian
Karya sastra merupakan cerminan perilaku manusia,
jendela di mana kita dapat memahami dunia dan kepribadian si pengarang yang
memang perlu dipahami. (Abrams, dalam Minderop, 2010: 60)
Sejak dulu kala telah dikenal bahwa karya sastra banyak
terkait dengan masalah biografi pengarang; belakangan ternyata karya sastra
merupakan ekdpresi impuls seksual yang terpendam dari si pencipta. Ungkapan
karya sastra yang menggambarkan atau sebagai orientasi estetika karakteristik
banyak diterbitkan pada awal abad ke 19.
C. Kerangka Pemikiran
Tujuan dari
bagian ini adalah untuk menggabarkan
secara jelas bagaimana kerangka berpikir yang digunakan peneliti untuk mengkaji
dan memahami permasalahan yang diteliti. Dalam penelitian ini, untuk mengkaji
novel Belenggu karya amrijn Pane peneliti mulai menganalisis karya sastra itu
sendiri. Analisis ini dilakukan untuk mencari unsur-unsur yang membangun karya
sastra. Unsur yang dianalisis seperti, tema, alur, penokohan dan latar.
Selanjutnya menganalisis novel dengan pendekatan psikologis sastra yaitu dengan
mendeskripsikan tokoh utama dan pembantu dalam novel belenggu dengan metode
telling dan Showing.
|
PENGUMPULAN
DATA
|
|
ANALISIS DATA
DATA
|
|
SAJIAN DATA
|
|
PENARIKAN
SIMPULAN/VERIFIKASI
DATA
|
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A. Jenis dan Strategi Penelitian
Jenis penelitian
ini adalah kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif adalah metode yang
memberikan perhatian terhadap data alamiah. Dalam mengkaji novel belenggu
peneliti menggunakan menggunakan kualitatif deskriptif yaitu meganalisis bentuk
deskripsi, tidak berupa angka/ tentang hubungan variabel.
Menurut
aminuddin (2002: 16) bahwa metode kualitatif artinya yang menganalisis bentuk
deskripsi, tidak berupa angka/koefisien tentang hubungan antar variabel.
Penelitian kualitatif melibatkan ontology. Data yangdikumpulkan berupa
kosakata, kalimat an gambar yang mempunya arti.
Strategi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
B. Objek Penelitian
Objek penelitian
adalah hal atau orang yang menjadi pokok pembicaraan dalam penelitian. Yang
menjadi objek dalam penelitian ini adalah novel “Belenggu”.
C. Data dan Sumber Data
Data penelitian
pada dasarnya merupakan bahan jadi penelitian. Dengan demikian, data penelitian
merupakan bahan yang sesuai untuk memberi jawaban terhadap masalah yang
diteliti. Data penelitian ini adalah data kualitatif yakni data lunak (soft data) berupa kata, frasa, kalimat,
dan wacana (Al Ma’ruf, 2010: 32) dalam novel Belenggu.
Adapun sumber
data penelitian ini adalah pustaka yang terdiri atas sumber data primer dan
sekunder (Al Ma’ruf, 2010: 32). Sumber data sekundernya adalah pustaka lain
berupa berbagai tulisan yang berkaitan dengan objek penelitian, baik berupa
buku, hasil penelitian, tesis dan disertasi, makalah maupun artikel pada jurnal
ilmiah.
D. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan atau
penyediaan data dilakukan dengan teknik pustaka, simak dan catat, wawancara,
observasi dan Focus Group Discussin (FGD).
(Al Ma’ruf, 2011:11) Namun penulis hanya menggunakan dua metode yaitu:
1.
Teknik pustaka yakni mempergunakan sumber-sumber
tertulis untuk memperoleh data dan konteks kesastraan dengan dunia nyata secara
mimetik yang mendukung untuk dianalisis. Sumber-sumber tertulis yang digunakan
dipilih sesuai dengan masalah dan tujuan pengakajian sastra konteks kesastraan
dapat dilengkapi dengan penjelasan dari sastrawan, kritikus, pembaca sastra,
latar peristiwa dan situasi.
2.
Teknik simak dan catat berarti peneli sebagai
instrumen kunci melakukan penyimakan secara cermat, terarah dan teliti terhadap
sumber data primer, yakni karya sasaran penelitian guna memperoleh data yang
diinginkan. Hasil penyimakan itu lalu dicatat sebagai sumber datanya untuk
pengecekan ulang terhadap sumber data ketika diperlukan dalam analisis data.
E. Teknik Validasi Data
Untuk menjamin
keabsahan data dalam penelitian ini peneliti menggunakan informat review, yakni
mengkonfirmasikan hasil pengumpulan data dan analisis data dengan pakar atau
narasumber yang bersangkutan. Jika ternyata hasil pengumpulan data dan analisis
data sudah disetujui oleh pakar/Narasumber berarti validitas data dapat
dipertanggungjawabkan. (Al Ma’ruf,
2011:13)
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis
data dalam penelitian ini menggunakan metode pembacaan heuristik dan
hermeneutik. Metode pembacaan heuristk
merupakan cara kerja yang dilakukan oleh pembaca dengan menginterpretasikan
teks sastra secara referensial lewat tanda-tanda linguistik. Kerja heuristik
menghasilkan pemahaman makna secara harfia, makna tersurat astual meaning.
Actual meaning (nurgiyantoro, 2007:33)
Teew (1984:123)
menyebutkan bahwa hermeneutik adalah ilmu atau keahlian menginterpretasi karya
sastra dan ungkapan bahasa dalam arti yang lebih luas maksudnya. Hermeneutik
adalah sebuah upaya untuk membuat sesuatu yang gelap, remang-remang atau
abstrak dalam suau teks menjadi jelas atau terang.
Dalam pelaksanaan,
digunakan juga metode berpikir induktif. Penelitian tidak mencari data untuk
memperkuat atau menolak hipotesis yang telah diajukan sebelum penelitian,
tetapi juga melakukan abstraksi setelah rekaan fenomena 2 khusus dikelompkan
menjadi satu. Teori yang dikembangkan dengan cara ini muncul darai bawah,
erasla dari sejumlah besar satuan bukti yang terkumpul yang saling berhubungan
satu dengan yang lainya. (Aminudin, 2002:17)
DAFTAR PUSTAKA
Al Ma’ruf, Ali Imron. 2010. Dimensi
Sosial Keagamaan Dalam Fiksi Indonesia Modern. Solo: Smart Media.
Al Ma’ruf, Ali Imron. 2011. Metode
Penelitian Sastra. Surakarta: UMS
Aminudin. 2002. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Pustaka Pelajar.
Atkinson, Rita L, et al. 1996. Pengantar Psikologi I. Jakarta: Erlangga.
Juliana, Endah. 2011. Dimensi Jender dalam Tarian Bumi Karya Oka
Rusmini Tinjauan Sastra Feminis. Surakarta: UMS.
Sumardjo, Jakob. 1997. Catatan
Kecil Tentang Menulis Cerpen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI)
Setianingrum, Rani. 2008. Analisis Aspek Kepribadian Tokoh Utama Dalam
Novel Supernova Episode Akar Karya Dewi
Lestari: Tinjauan Psikologi Sastra. Surakarta: UMS.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu
Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Teori
Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
www.kabarpendidikan
Bimo Walgito.com diakses pada Rabu, 11 Januari 2012, diakses pada
16:02:38
Tidak ada komentar:
Posting Komentar