Senin, 11 Juni 2012

Tugas Makul Sastra (Analisis kepribadian tokoh novel belenggu)


ANALISIS KEPRIBADIAN TOKOH-TOKOH
DALAM  NOVEL BELENGGU MELALUI PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Metode Penelitian Sastra Dan Pengajaran

Dosen Pengampu
Dr. Ali Imron Al Ma’ruf, M. Hum

 











Oleh
LESTIASIH
A 310090233


PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULIAN

A.    Latar  Belakang
Sebuah   karya   sastra   pada   hakikatnya   merupakan   suatu   pengungkapan  kehidupan melalui  bentuk bahasa.  Karya sastra merupakan pengungkapan baku dari apa yang telah disaksikan, diilhami, dan dirasakan seseorang mengenai segi-segi  kehidupan yang menarik minat  secara  langsung dan kuat,  pada hakikatnya suatu pengungkapan kehidupan manusia melalui bentuk bahasa. Hardjana berpendapat bahwa sastra merupakan hasil ciptaan tentang karya kehidupan dengan menggunakan bahasa imajinatif dan emosional.
Karya sastra lahir karena adanya keinginan dari pengarang untuk mengungkapkan eksistensinya sebagai manusia yang berisi ide, gagasan dan pesan tertentu yang diilhami oleh imajinasi dan realitas sosial budaya pengarang serta menggunakan media bahasa sebagai penyampaianya. Karya sastra merupakan fenomena sosial budaya yang melibatkan kreativitas manusia. Dan karya sastra lahir dari pengekspresian endapan pengalaman yang telah ada dalam jiwa pengarang secara mendalam melalui proses imajinasi. ( Aminudin dalam Endah Juliana, 2011:1)
Karya sastra pada umumnya berisi tentang permasalahan yang melengkapi kehidupan manusia. Permasalahan itu dapat berupa permasalahan yang terjadi dalam dirinya sendiri. Karena itu, karya sastra memiliki dunia sendiri yang merupakan hasil dari pengamatan sastrawan terhadap kehidupan yang diciptakan itu sendiri baik  berupa novel, puisi maupun drama yang berguna untuk dinikmati, dipahami,  dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang ditulis secara naratif, biasanya dalam bentuk cerita. Sebuah novel biasanya menceritakan tentang kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sesamanya. Dalam sebuah novel, si pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk  mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan melalui cerita yang terkandung dalam novel tersebut.
Novel merupakan salah satu karya sastra yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa secara tersusun, namun jalan ceritanya dapat menjadi suatu pengalaman hidup yang  nyata dan seolah kita dapat merasakan kejadian-kejadian dalam cerita tersebut. Hal ini berarti novel bergumul dengan para tokoh dan penokohan yang terdapat dalam karya tersebut. Dewantara (dalam Walgito, 1997:5) mengungkapkan bahwa setiap manusia merupakan individu yang berbeda  dengan individu lainnya. Manusia mempunyai watak, temperamen, pengalaman, pandangan, dan perasaan sendiri yang berbeda dengan lainnya. Dalam novel para tokoh rekaan ini menampilkan berbagai watak dan perilaku yang terkait dengan kejiwaan dan pengalaman psikologis atau konflik-konflik sebagaimana dialami oleh manusia dalam kehidupan nyata.
Para pembaca akan memiliki penilaian berbeda-beda terhadap karya sastra, terhadap tokoh-tokoh dalam novel yang dibaca. Atas dasar motif apa tokoh melakukan hal tersebut. Penilaian ini bisa dilihat dari segi psikologi, baik dari tokoh, pengarang maupun pembaca. Dewantara (dalam Walgito, 1997:5) mengungkapkan bahwa setiap manusia merupakan individu yang berbeda  dengan individu lainnya. Manusia mempunyai watak, temperamen, pengalaman, pandangan, dan perasaan sendiri yang berbeda dengan lainnya
Belenggu adalah salah satu novel karya Amrijn Pane pada tahun 1940. Pada novel ini menceritakan tentang sepasang suami istri Sukartono dan Sumartini. Sumartini yang merasa tidak diperhatikan lagi karena suaminya terlalu sibuk dengan pekerjaanya sebagai seorang dokter, sehingga ia pergi mencari kesibukan sendiri. Hal ini berakibat sering terjadi keslah pahaman dan mereka sering bertengkar karena pikiran masing-masing, dan masih banyak lagi akibat lainya.
Untuk itulah mengapa penulis memilih Novel Belenggu sebagai bahan analisis, karena dari segi judulnya, Belenggu berarti terikat. Penulis mencoba ingin mengkaji lebih dalam mengapa para tokoh di dalam karya tersebut berperilaku demikian, apakah mereka mengalami konflik-konflik psikologis. Apa yang menyebabkan kondisi semacam ini dan apa pula akibatnya.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, timbulah suatu rumusan masalah “Bagaimana Aspek-Aspek Kejiwaan Para Tokoh Dalam Novel Belenggu?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami Aspek-Aspek Kejiwaan Para tokoh Dalam Novel Belenggu.

D.    Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, manfaat penelitian ini adalah
1.      Maanfaat Teoritis
Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan khasanah keilmuan dan pengetahuan sastra Indonesia terutama dalam pengkajian novel dengan pengkajian psikologi sastra bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umunya.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi pembaca dan penikmat sastra
Hasil penelitian ini dapat memperluas pengetahuan pembaca sastra indonesia terhadap karakter seseorang melalui tokoh-tokoh dalam novel belenggu.
b.      Bagi mahasiswa sastra indonesia dan daerah
Sebagai motivasi dan reverensi penelitian karya sastra indonesia, agar setelah peneliti melakukan penelitian ini muncul penelitian baru seingga dapat menumbuhkan motivasi dalam kesustraan.s
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI
 DAN KERANGKA PEMIKIRAN

A.    Tinjauan  Pustaka
Pada dasarnya suatu penelitian dapat mengacu pada penelitian lain sebagai titik tolak untuk mengetahui keaslian dan keautentikan penelitian yang dilakukan. Kajian pustaka yang dimaksud adalah penelaahan terhadap karya atau penelitian yang relevan dengan penelitian ini.
Diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Ika Rukmana Purnamasari (2011:106) yang berjudul “Konflik Batin Tokoh Utama Dalam Novel Sang Maharani Karya Agnes Jessica: Tinjauan Psikologi Sastra”. Dalam skripsi menganalisis novel Sang maharani. Dengan tokoh utama maharani, latar atau waktu terjadi sekitar tahun 1942 sampai 1945. Latar sosial ini adalah kehidupan Maharani yang penuh dengan cobaan. Karena ia harus menjadi pelacur dan menjadi primadona di wisma Bintang Cahaya. Ia di pelihara oleh tentara jepang. Sehingga semua teman menjauhinya. Hal tersebut sangat menyiksa batinya. Ketika ia bebas dan kembali kerumahnya ia terpaku dan tertunduk dengan lemas melihat rumahnya yang tinggal puing-puing. Akhirnya rani membuat toko roti dan membeli rumah baru.
Selanjutnya yaitu penelitian oleh Tri Wulandari (2011:104) dalam skripsinya “Aspek Motivasi Novel Mereguk Cinta Dari Surga Karya Abdul Karim Khiaratullah Tinjauan Psikologi Sastra”. Tema dalam Novel mereguk cinta dari surga adalah mempertahankan nilai kemanusiaan dalam penderitaan dan memotivasi diri untuk bangkit dari keterpurukan. Alur yang digunakan adalah alur mundur, sorot balik atau flash. Dengan tokoh utama aziz. Latar waktu sekitar tahun 2002 sanpai 2003. Latar sosial yang dialami aziz adalah kehidupan yang penuh kebersamaan, gotong royong dan saling membantu. Analisis dalam novel ini menggunakan teori minderop.


B.     Landasan Teori
1.      Hakikat kepribadian
Menurut pandangan eksperimental, kajian kepribadian merupakan suatu proses yang harus dipahami dengan mempelajari peristiwa yang mempemgaruhi perilaku seseorang melalui kontribusi peristiwa tersebut terhadap kepribadian si individu. Menurut pandangan sosial, kajian kepribadian dalam kaitanya dengan konteks sosial dan perkembangan kehidupan harus dipahami melalui kontribusi model dan peran kebudayaan itu sendiri. Dengan demikian, kepribadian adalah suatu integrasi dari semua aspek kepribadian yang unik dari seseorang menjadi organisasi yang unik, yang menentukan dan dimodifikasi oleh upaya seseorang beradaptasi dengan lingkungan yang selalu berubah. (Krech dalam Minderop, 2010:7).
Bagi para psikologis, istilah kepribadian adalah pengutamaan alam bawah sadar (unconsious) yang berada diluar sadar, yanag membuat struktur berpikir diwarnai oleh emosi. Mereka beranggapan, perilaku seseorang sekedar wajah permukaan karakteristiknya, sehingga untuk memehami secara mendalam kepribadian seseorang, harus diamati gelagat simbolis dan pikiran yang paling dalam dari seorang tersebut. Mereka juga mempercayai bahwa pengalaman masa kecil individu bersama orang tua telah membentuk kepribadian kita. (Freud dalam Minderop,  2010:9)

2.      Hakikat Novel
Dalam kamus Besar bahasa Indonesia menyebutkan bahwa Novel adalah karangan prosa yang panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Sedangkan novel menurut Jakob Sumardjo (1997: 185) adalah cerita fiktif yang panjang. Bukan panjang dalam arti fisik, tetapi juga isinya. Novel terdiri dari satu cerita yang pokok, dijalani dengan beberapa cerita sampingan yang lain, banyak kejadian dan banyak masalah juga yang semuanya harus merupakan satu kesatuan yang bulat.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa novel adalah salah satu karya sastra yang merupakan cerita fiksi (rekaan) panjang, novel dibangun oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terdapat pelaku didalamnya.
Novel sebagai sebuah karya fiksi menawaran sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh (dan penokohan), latar sudut pandang, dan lain-lain yang semuanya, tentu saja, dan bersifat imajinatif. (Nurgiyantoro, 2009: 4)
Salah satu unsur pembangun novel adalah tokoh atau penokohan. Tokoh merupakan unsur yang penting dalam karya naratif, karena tokoh adalah pembuat konflik atau “siapa yang melakukan dan di kenai sesuatu dalam cerita tersebut”. Namun novel fiksi merupakan sebuah keseluruhan yang utuh dan memiliki ciri artistik. Keutuhan dan keartistikan itu terletak pada keterjalinanya yang erat antarberbagai unsur pembangun lainya seperti, plot, tema atau unsur latar, sudut pandang, budaya, gaya, amanat dan lain-lain.
a.       Hakikat Tokoh dan Penokohan
Istilah “tokoh” menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, misalnya sebagai jawab terhadap pertanyaan: “siapa tokoh utama novel itu?” atau ”ada berapa jumlah pelaku novel itu?”, atau “Siapakah tokoh protagonis dan antagonis dalam novel itu?” dan sebaginya. Watak, perwatakan dan karakter merujuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. (Nurgiyantoro, 2009: 165)
Tokoh cerita (character) menurut Abrams (1981: 20), adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapandan apa yang dilakukan dalam tindakan.
b.      Pembedaan Tokoh
Menurut Nurgiyantoro (2009: 176) tokoh-tokoh dalam novel dapat dibedakan kedalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan. Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat saja dikategorikan ke dalam beberapa jenis penamaan sekaligus, misalanya sebagai tokoh utama-protagonis-berkembang-tipikal.
1)      Tokoh utama dan tokoh tambahan
2)      Tokoh protagonis dan tokoh antagonis
3)      Tokoh sederhana dan tokoh bulat
4)      Tokoh statis dan tokoh berkembang
5)      Tokoh tipikal dan tokoh netral

3.      Hakikat Psikologi Sastra
a.       Pengertian Psikologi Sastra
Pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang berkaitan dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam sastra. Aspek-aspek kemanusiaan inilah yang merupakan objek utama psikologi sastra sebab semata-mata dalam diri manusia itulah aspek kejiwaan dicangkokkan dan diinvestasikan. (Ratna, 2004: 344).
Psikologi sastra adalah sebuah interdisiplin antara psikologi dan sastra. Mempelajari psikologi sastra sebenarnya sama halnya dengan mempelajari manusia dari sisi dalam. Daya tarik psikologi sastra ialah pada masalah manusia yang melukiskan potret jiwa. Tidak hanya jiwa sendiri yang muncul dalam sastra, tetapi juga mewakili jiwa orang lain. Setiap pengarang kerap menambahkan pengalaman sendiri dalam karyanya dan  pengalaman pengarang itu sering pula dialami oleh orang lain. (Endraswara dama Minderop, 2010:59)
b.      Sastra sebagai cerminan kepribadian
Karya sastra merupakan cerminan perilaku manusia, jendela di mana kita dapat memahami dunia dan kepribadian si pengarang yang memang perlu dipahami. (Abrams, dalam Minderop, 2010: 60)
Sejak dulu kala telah dikenal bahwa karya sastra banyak terkait dengan masalah biografi pengarang; belakangan ternyata karya sastra merupakan ekdpresi impuls seksual yang terpendam dari si pencipta. Ungkapan karya sastra yang menggambarkan atau sebagai orientasi estetika karakteristik banyak diterbitkan pada awal abad ke 19.

C.    Kerangka Pemikiran
Tujuan dari bagian  ini adalah untuk menggabarkan secara jelas bagaimana kerangka berpikir yang digunakan peneliti untuk mengkaji dan memahami permasalahan yang diteliti. Dalam penelitian ini, untuk mengkaji novel Belenggu karya amrijn Pane peneliti mulai menganalisis karya sastra itu sendiri. Analisis ini dilakukan untuk mencari unsur-unsur yang membangun karya sastra. Unsur yang dianalisis seperti, tema, alur, penokohan dan latar. Selanjutnya menganalisis novel dengan pendekatan psikologis sastra yaitu dengan mendeskripsikan tokoh utama dan pembantu dalam novel belenggu dengan metode telling dan Showing.
PENGUMPULAN
DATA
ANALISIS DATA DATA
SAJIAN  DATA
PENARIKAN
SIMPULAN/VERIFIKASI
DATA

 

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis dan Strategi Penelitian
Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif adalah metode yang memberikan perhatian terhadap data alamiah. Dalam mengkaji novel belenggu peneliti menggunakan menggunakan kualitatif deskriptif yaitu meganalisis bentuk deskripsi, tidak berupa angka/ tentang hubungan variabel.
Menurut aminuddin (2002: 16) bahwa metode kualitatif artinya yang menganalisis bentuk deskripsi, tidak berupa angka/koefisien tentang hubungan antar variabel. Penelitian kualitatif melibatkan ontology. Data yangdikumpulkan berupa kosakata, kalimat an gambar yang mempunya arti.
Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
B.     Objek Penelitian
Objek penelitian adalah hal atau orang yang menjadi pokok pembicaraan dalam penelitian. Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah novel “Belenggu”.
C.    Data dan Sumber Data
Data penelitian pada dasarnya merupakan bahan jadi penelitian. Dengan demikian, data penelitian merupakan bahan yang sesuai untuk memberi jawaban terhadap masalah yang diteliti. Data penelitian ini adalah data kualitatif yakni data lunak (soft data) berupa kata, frasa, kalimat, dan wacana (Al Ma’ruf, 2010: 32) dalam novel Belenggu.
Adapun sumber data penelitian ini adalah pustaka yang terdiri atas sumber data primer dan sekunder (Al Ma’ruf, 2010: 32). Sumber data sekundernya adalah pustaka lain berupa berbagai tulisan yang berkaitan dengan objek penelitian, baik berupa buku, hasil penelitian, tesis dan disertasi, makalah maupun artikel pada jurnal ilmiah.

D.    Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan atau penyediaan data dilakukan dengan teknik pustaka, simak dan catat, wawancara, observasi dan Focus Group Discussin (FGD). (Al Ma’ruf, 2011:11) Namun penulis hanya menggunakan dua metode yaitu:
1.      Teknik pustaka yakni mempergunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data dan konteks kesastraan dengan dunia nyata secara mimetik yang mendukung untuk dianalisis. Sumber-sumber tertulis yang digunakan dipilih sesuai dengan masalah dan tujuan pengakajian sastra konteks kesastraan dapat dilengkapi dengan penjelasan dari sastrawan, kritikus, pembaca sastra, latar peristiwa dan situasi.
2.      Teknik simak dan catat berarti peneli sebagai instrumen kunci melakukan penyimakan secara cermat, terarah dan teliti terhadap sumber data primer, yakni karya sasaran penelitian guna memperoleh data yang diinginkan. Hasil penyimakan itu lalu dicatat sebagai sumber datanya untuk pengecekan ulang terhadap sumber data ketika diperlukan dalam analisis data.
E.     Teknik Validasi Data
Untuk menjamin keabsahan data dalam penelitian ini peneliti menggunakan informat review, yakni mengkonfirmasikan hasil pengumpulan data dan analisis data dengan pakar atau narasumber yang bersangkutan. Jika ternyata hasil pengumpulan data dan analisis data sudah disetujui oleh pakar/Narasumber berarti validitas data dapat dipertanggungjawabkan.  (Al Ma’ruf, 2011:13)
F.     Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode pembacaan heuristik dan hermeneutik. Metode pembacaan heuristk  merupakan cara kerja yang dilakukan oleh pembaca dengan menginterpretasikan teks sastra secara referensial lewat tanda-tanda linguistik. Kerja heuristik menghasilkan pemahaman makna secara harfia, makna tersurat astual meaning. Actual meaning (nurgiyantoro, 2007:33)
Teew (1984:123) menyebutkan bahwa hermeneutik adalah ilmu atau keahlian menginterpretasi karya sastra dan ungkapan bahasa dalam arti yang lebih luas maksudnya. Hermeneutik adalah sebuah upaya untuk membuat sesuatu yang gelap, remang-remang atau abstrak dalam suau teks menjadi jelas atau terang.
Dalam pelaksanaan, digunakan juga metode berpikir induktif. Penelitian tidak mencari data untuk memperkuat atau menolak hipotesis yang telah diajukan sebelum penelitian, tetapi juga melakukan abstraksi setelah rekaan fenomena 2 khusus dikelompkan menjadi satu. Teori yang dikembangkan dengan cara ini muncul darai bawah, erasla dari sejumlah besar satuan bukti yang terkumpul yang saling berhubungan satu dengan yang lainya. (Aminudin, 2002:17)





DAFTAR PUSTAKA

Al Ma’ruf, Ali Imron. 2010. Dimensi Sosial Keagamaan Dalam Fiksi Indonesia Modern. Solo: Smart Media.

Al Ma’ruf, Ali Imron. 2011. Metode Penelitian Sastra. Surakarta: UMS

Aminudin. 2002. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Pustaka Pelajar.

Atkinson, Rita L, et al. 1996. Pengantar Psikologi I. Jakarta: Erlangga.

Juliana, Endah. 2011. Dimensi Jender dalam Tarian Bumi Karya Oka Rusmini Tinjauan Sastra Feminis. Surakarta: UMS.

Sumardjo, Jakob. 1997. Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI)

Setianingrum, Rani. 2008. Analisis Aspek Kepribadian Tokoh Utama Dalam Novel Supernova Episode Akar  Karya Dewi Lestari: Tinjauan Psikologi Sastra. Surakarta: UMS.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

www.kabarpendidikan Bimo Walgito.com diakses pada Rabu, 11 Januari 2012, diakses pada 16:02:38

Tidak ada komentar:

Posting Komentar